Pengembangan Sistem Prakiraan Iklim Musiman Berbasis Kearifan Lokal Untuk Penguatan Sistem Kalender Tanam Padi-Palawija di Pulau Lombok NTB

Ir Ismail Yasin, M.Sc

Perubahan iklim menyebabkan peningkatan pertumbuhan mikroba termasuk kapang toksigenik penghasil mikotoksin pada jagung dan kedelai. Hasil penelitian menunjukkan, pertumbuhan optimal kapang toksigenik A. Flavus dicapai pada suhu 30ÂșC dan kelembaban 90% pada kedelai, dan suhu 200C dan kelembaban 90% pada jagung, dan tidak dapat tumbuh/ menghasilkan aflatoksin pada suhu 40ÂșC dan kelembaban 70% pada jagung maupun kedelai. Pertumbuhan A. ochraceus di jagung dan kedelai optimal pada suhu 30OC dan kelembaban 90%, dengan kandungan okflatoksin pada kedelai 120 ppb. Kapang F. verticillioides tumbuh pada jagung dan kedelai hanya pada kelembaban 90 %, dan pada suhu 40oC pada semua tingkat kelembaban kapang tidak tumbuh. Fumonisin B1 terbentuk dalam konsentrasi yang tinggi (diatas 600 ppb pada jagung) pada suhu 200C dan 30°C dengan kelembaban 90%. Populasi A.ochraceu tidak dipengaruhi peningkatan suhu lingkungan maupun kekeringan, akan tetapi berpengaruh pada A.flavus dan F. Verticillioides. Kapang S. cerevisiae mampu menghambat A. flavus, A. ochraceus dan F. Verticillioides dengan persentase penghambatan terbesar pada A. ochraceus pada jagung (59%) dan terkecil pada A. flavus pada kedelai (38%). Penyimpanan jagung dan kedelai pada silo harus diwaspadai pada saat suhu silo meningkat. Kondisi yang direkomendasi untuk untuk mengurangi risiko pertumbuhan kapang A. flavus, A. ochraceus dan F. Verticillioides di dalam silo adalah kelembaban 70%. Apabila kapang toksigenik sudah mencemari j


Kata kunci
: Padi, prakiraan iklim, sistem kalender tanam
Lokasi
:  Lombok, Nusa Tenggara Barat
Mitra
Output