Pemodelan Pertumbuhan dan Produksi Gula

Dr. Suyoto Hadisaputro

Pemodelan produksi tebu dan gula dapat dijadikan sebagai alat bantu penentu kebijakan dalam upaya pengembangan tebu berkelanjutan, dengan memanfaatkan data iklim, tanah, dan teknologi budidaya yang telah tersedia. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai Desember tahun 2013, di Pasuruan dan Malang. Pasuruan mewakili tipologi geografi BPL (tanah berat, berpengairan, drainase lancar), BPJ (tanah berat, berpengairan, drainase jelek), BHL (tanah berat, tadah hujan, drainase lancar) dan BHJ (tanah berat, tadah hujan, drainase jelek). Sementara Malang mewakili tipologi RPL (tanah ringan, berpengairan, drainase lancar), RPJ (tanah ringan, berpengairan, drainase jelek) dan RHL (tanah ringan, tadah hujan, drainase lancar). Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 3 varietas, yaitu PS 881 (masak Awal), Kidang Kencana (masak Tengah) dan PS 864 (masak Lambat) diulang 3 kali. Konsep model dibangun melalui penggabungan antara Model Potensi Waktu Tumbuh (PWT), Model Shierary dan Climatological Index (CI) dari ISSCT. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan tebu pada tipologi BPL lebih optimal dibandingkan tipologi lain. Pada tipologi BHL, BHJ, RPL, RPJ, dan RHL pertumbuhan tebu kurang optimal, kekurangan air dalam masa pertumbuhan sangat berdampak pada pertumbuhan tinggi batang. Pada tipologi BHL, BHJ dan RHL dimana pengairan mengandalkan hujan, penambahan tinggi batang tidak optimal. Pada lahan RPL dan RPJ, pengairan tidak efektif karena tekstur tanahnya yang


Kata kunci
: tebu, pemodelan, produksi gula
Lokasi
: Pasuruan dan Malang, Jawa Timur
Mitra
Output